Ia mendekatkan wajahnya ke arahku..“Mirza, aku tahu aku lebih tua darimu. Suaranya empuk dan meneduhkan.“Ya, rumah ini dulu rumah Pakde saya. Bokep Tobrut Dadanya bergoyang-goyang ketika ia mengisyaratkan kedinginan.Aku memberikan lilin itu dan memberanikan diri menatapnya agak lama sambil sesekali memperhatikan dadanya.“Kamu nggak takut sendirian? Mbak Marissa mendesah makin keras dalam tingkahan suara hujan.Aku makin membara dan membara. Kebiasaan jelek. Ini membuatnya menggelinjang-gelinjang, mengerang, mendesah dan merasakan nikmat luar biasa dalam tindihanku.Dan kesempatan itu tak kusia-siakan. Kalau melihat terus seperti itu, ntar kepingin lho?” seloroh Mbak Marissa dengan suara lembut menggoda.Dan entah kenapa aku merasa tak terlalu kuat menahan gejolakn mudaku. Aku balik menyerangnya, menggumulinya dan memberikan semua yang ia ingin dan ia mau. Aku berseru senang dalam hati manakala kutahu ia adalah tetangga baruku.Satu-dua hari pertama tak terlihat perempuan itu di luar rumah.




















