Sorot mata mereka membuatku nervous dan jantungku berdetak lebih cepat, kakiku serasa lemas bak kehilangan pijakan sehingga aku menyandarkan punggungku ke tembok.Kini aku dapat melihat nama-nama mereka yang tertera di atas kantong dadanya. Kalau dirasakan dari ukurannya sih sepertinya si Dimas karena yang ini ukurannya pas dan tidak menyesakkan seperti milik Pak Romli. Bokepjepang Kami bersiap meninggalkan tempat itu.“Lain kali kalau mau melakukan hubungan badan hati-hati, kalau ketangkap kan harus bagi-bagi” begitu kata Pak Egy sebagai salam perpisahan disertai tepukan pada pantatku.“Citra… citra… sorry dong, kamu marah ya!” kata Dimas yang mengikutiku dari belakang dalam perjalananku menuju tempat parkir.Dengan cueknya aku terus berjalan dan menepis tangannya ketika menangkap kenganku, dia jadi tambah bingung dan memohon terus.




















