Aku kembali menuju Bandung. Gelap dan sepi. Bokeb Aku melayang. “Tenang aja Mas.., rahasia dijamin, ya Sari”, kata Bu Maya sambil mengedip penuh arti.Setelah menurunkan Bu Maya di halte, aku langsung mengarah ke Setia Budi. Aku menyetir dengan posisi penisku tetap terbuka tegang. Aku memperlambat jalan mobilku, menikmati kulumannya sambil mata tetap mengawasi kendaraan lain. Tadi Sari bilang sendirian. Kiri ke arah Tangkuban Perahu. Roknya selalu model mini dan cara duduknya sembarangan. Sari bukannya mempercepat, malah melepas. Macam-macam alasannya. Matakupun jelalatan memperhatikan sekeliling. Jelas aku mencatat nomor teleponnya. Keteganganku yang tadi sempat turun oleh “gangguan” orang lewat, kini naik lagi. Tanganku menyusup ke balik CD-nya. Tanganku kembali ke pahanya, bahkan terus ke atas meraba CD-nya. Memang pada waktu yang bersamaan aku menyalip motor dan si pembonceng sempat melihat kelakuan tanganku.Kami sampai di Lembang.




















