Mulutnya persis di depan Junior hanya beberapa jari. Mobil bergerak pelan, aku masih melihat ke arahnya, untuk memastikan ke mana arah wanita yang berkeringat di lehernya itu. Bokep Tante Ia tersenyum. Atau kesialan, karena ia masih mengangkat tabloid menutupi wajah? Bodoh amat. Hap. Ya sekarang..!” pintanya penuh manja.Tetapi mendadak bunyi telepon di ruang depan berdering. Kalau kini aku berani pasti karena dadanya terbuka, pasti karena peluhnya yang membasahi leher, pasti karena aku terlalu terbuai lamunan. Atau apalah? Pasti terburu-buru. Kaki kusandarkan di tembok yang membuat ia bebas berlama-lama membersihkan bagian belakang pahaku. Si Junior tiba-tiba juga ikut-ikutan ciut. Ke bawah lagi: Turun. Alamak.., jauhnya. Payudara itu dari jarak yang cukup dekat jelas membayang.Cukuplah kalau tanganku menyergapnya. Di mana? Ah bodoh. Toh masih ada hari esok.Aku bergegas naik angkot yang melintas. Aku harus memulai. Mobil melaju. Jendela kubuka. Lihat saja ia sudah separuh berlutut mengarah pada Junior. Ia tersenyum




















