Eh, ngomong-ngomong, Mbak baru bikin brownies buat mama kamu, nih!” Mbak Marisa mengangsurkan sepiring brownies.Aku mengucapkan terimakasih. Meluncur saja kalimat itu dari mulutku.“Kalau saya kepingin, bagaimana?” tanyaku.Kutatap matanya penuh-penuh. Film Porno Lelaki itu melambai padaku ketika aku memperhatikannya. Kan hujan dan gelap?” tanya Mbak Marisa.“Nggak. Kini bisa kulihat jelas raut perempuan itu. Aku hanya bisa mematung duduk persis di hadapannya. Kalau hujan, pasti lampu mati. Hujan masih turun. Aku terperangah malu tertangkap basah seperti itu.“Sori, Mbak!”“Kau bilang sori, tapi terus menatap dadaku. Dan seperti biasa, sementara aroma angin menjelang hujan menerpa leher, setiap kali hendak hujan aku selalu teringat masa paling mengasyikkan dalam hidupku. Aku menatap dada itu tanpa ragu dengan nikmat.“Eit, kau melihat dadaku terus!” Mbak Marissa refleks menutup dadanya. Mendidik dadaku merasakan tangannya mendarat di pundakku. Mbak Marissa benar-benar seksi dengan dada terbuka dan bibir mereka dalam remang di tengah hujan malam ini.“Sentuh puting ini dengan




















