Yes. Bokep Tante Aku jelas mendengarnya dari sini.Kembali ruangan sepi. Tetapi aku masih betah di atas mobil ini. Masak tidak ada yang bisa dibicarakan. Aku masih mematung. Pijitan turun ke perut. Kuusap sisa cream. Makin lama suara sepatu itu seperti mengutukku bukan berbunyi pletak pelok lagi, tapi bodoh, bodoh, bodoh sampai suara itu hilang.Aku hanya mendengus. Hap. Di mana? Begini saja daripada repot-repot. Jendela kubuka. Sial. Ini kesempatan kedua. Kalau potong rambut ya masuk ke tukang pangkas di pasar. Ia malah melengos. Kali ini lebih bertenaga dan aku memang benar-benar pegal, sehingga terbuai pijitannya.“Telentang..!” katanya.Kuputuskan untuk berani menatap wajahnya. Tapi saya gerah.” meloncat begitu saja kata-kata itu.Aku belum pernah berani bicara begini, di angkot dengan seorang wanita, separuh baya lagi.




















